DALAM MIMPIKU


Aku berdiri di sebuah lereng gunung, diatas bebatuan khas pegunungan, entah itu ada dimana, menghadap ke arah matahari terbit.Aku tau aku sedang berada di atas ketinggian beberapa ratus meter dari permukaan laut karena aku melihat tinggi pepohonan yang berada jauh dibawahku. Aku membelakangi sebuah mulut gua yang kira-kira besarnya mulut gua itu seperti pintu masuk sebuah Mall, aku melihat ke bawah kaki ku sesuatu yang mengalir yang datangnya dari dalam gua, mengalir perlahan dan terlihat kental bening kekuningan. Aku menoleh ke dalam gua..

Aku melihat sebuah gundukan besar seukuran lemari pendingin terbuat dari tanah yang sepertinya itu bukan terbentuk dari tetesan air di dalam gua. Sesuatu yang mengalir itu berasal dari gundukan itu. Terlihat sangat banyak keluar dari celah-celah nya, seakan-akan isi di dalam gundukan tersebut sudah penuh sekali. Gundukan itu menempel di dinding gua di sebelah dalam yang kira-kira jaraknya 12 meter dari tempatku berdiri. Saat itu entah mengapa aku berpikiran kalau itu adalah sebuah sarang lebah raksasa, dan yang mengalir keluar itu ada madu.

Aku mencicipinya...

Rasanya sangat manis sekali, begitulah kira-kira perasaanku ketika menjilat langsung cairan yang kupikir madu itu langsung di atas bebatuan di tempatku berdiri. Dengan posisi seperti orang yang sedang sujud sholat, aku terus menjilati madu tersebut. Luar biasa lezatnya. Aku menoleh sedikit ke sebelah kanan, disana ada bebatuan dengan cerukan kecil. Madu yang mengalir itu tertampung di cerukan tersebut. Aku beralih mengambil madu itu dengan kedua telapak tangan yang disatukan seperti tangan orang yang sedang berdoa. Tanganku sudah penuh dengan madu, aku meminumnya perlahan, nikmat sekali, rasa manis madu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. 

Lalu kemudian, ada dua orang datang...

Satu orang pria satu orang lagi wanita. Berjalan mendekat menghampiriku. Yang perempuan lebih tinggi dari dari si pria, dan juga berbadan sintal, memakai kemeja hijam lengan pendek dan celana jeans hitam. Tidak begitu jelas bagaimana wajahnya. Dan yang pria terlihat lebih kurus, aku lupa dia memakai pakaian apa, si pria tampak samar. Lalu aku menunjukan telapak tanganku kepada mereka yang masih berisi madu. Sambil menghabiskan madu yang ada di tangan, kami memasuki gua...

Gua itu cukup luas namun tidak terlalu dalam, kami mendekati sarang lebah tersebut. Anehnya, tidak ada seekor lebah pun berkeliaran di sekitar sarang tersebut. Madu di telapak tanganku sudah habis tanpa aku sadari kapan aku menghabiskannya, begitulah mimpi. Lalu sayup-sayup aku mendengar teriakan segerombolan orang, terdengar parau dan kasar. Mungkin mereka gerombolan orang-orang jahat, setidaknya itulah yang aku pikirkan saat itu...

Kami memutuskan bersembunyi disisi kanan sebelah bawah sarang tersebut, dengan cara menuruni batuan basah dan licin. Tempatnya agak gelap, kami bertiga jongkok diam menahan napas sekuat tenaga karena rasa takut tak terkira. Mereka terlanjur tau tempat ini. Gerombolan itu sudah memasuki gua, mereka memiliki senter dan sepertinya mereka tau tempat persembunyian kami. Aku panik, keringat dingin mengucur dari kepalaku yang sedari tadi kututup dengan rompi yang kukenakan.

Kami tertangkap basah. Si wanita sudah tidak ada, mungkin sudah dibawa oleh gerombolan tersebut. Si pria sudah diikat, kepalanya di tutupi karung. Dan Aku... entah kenapa, selamat...

Si ketua gerombolan berkata kepadaku, "kau, naiklah". Aku bingung kenapa aku bisa selamat. Ketua gerombolan itu berkata lagi, "ayahmu sudah berpesan kepadaku kalau; di atas sana ada anakku, dia memakai rompi berwarna krem.;". Aku berpikir saat itu, seseorang yang mengaku ayahku itu tentunya orang yang sangat berpengaruh. Aku berjalan keluar dari mulut gua. Aku tidak tau lagi bagaimana nasib kedua orang yang baru kutemui itu.

Perlahan pemandangan di depan mataku memudar, menjadi samar hingga semua benar-benar menjadi putih. Aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Sepertinya mimpiku ini telah berakhir..



























Komentar

Postingan Populer